Siapa tak kenal angklung. Salah satu asset bangsa yang telah diakui dunia, pengakuan resmi dari UNESCO yang menyematkan predikat the representative list of the intangible cultural heritage of humanity pada angklung yang dideklarisakan pada 16 januari 2011 telah mengangkat derajatnya lebih tinggi lagi.

Kini sangat mudah untuk menemui alat music tradisional ini. Disekolah-sekolah murid dengan ceria memainkannya. Banyak event planer yang tidak segan menampilkan pertunjukan angklung dalam memeriahkan acaranya. Tidak sedikit pula tempat wisata yang menjadikan angklung sebagai pemikat pada paket wisatanya.

Dari banyaknya jenis seni tradisi yang nyaris punah  dengan angka yang cukup menyayat hati, penelitian atiek supandi mengungkapkan setidakya 55 jenis kesenian di jawabarat dan 77 jenis kesenian didaerah lainya tidak dapat berkembang. Dan mereka telah masuk daftar museum, karena sulit diidentifikasi serta di deskrpsikan. Pelakunyapun enta dimana.

Beruntunglah angklung masih dapat bertahan dan malah makin meningkat popularitasnya. Kita patut bersyukur atas itu. Namun dibalik itu semua, tidak banyak yang mengatahui bahwa angklung pernah mengalami keterpurukan dalam sejarahnya tepatnya pada awal abad ke 20.

Pada masa itu kolonial belanda merasa angklung berbahaya jika terus berkembang. Sebab dapat menjadi penyemangat dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintahan belanda. Pada akhirnya mereka melarang permainan angklung dimainkan secara masal.

Waktu terus berlalu, hanya anak-anak dan kaum proletar yang memainkan angklung. Mereka mendapat pemakluman sebab dianggap tidak memberi dampak yang berbahaya. Pengamen-pengamen jalanan memainkan angklung demi mengais rezeki. Ini membuat citra angklung menjadi buruk karna dianggap kampungan tidak berkelas dan maianan orang miskin.

Angklung yang masih bernada pentatonic (da mi na ti la) semakin tergerus zaman. Hingga pada tahun 1938 seorang pemusik bernama daeng sutigna mentransfomasikan tangga nada pendatonis pada angklung menjadi diatonic ( do re mi fa sol la ti ). Tak diduga ini menjadi titik awal kemajuan angklung.

Tahun 1944 daeng membentuk grup angklung yang di gawangi anak-anak sekolah kelas 4-5 SD di Kuningan. Nada yang lebh modern dengan materi lagu yang lebih universal, membuat angklung semakin banyak peminat pada saat itu. persebaran angklung menjadi lebih cepat dengan tercetak regenerasi pada saat itu. di tunjang juga oleh pengakuan pemerintah sukarno, yang melibatkan angklung pada acara-acara bersifat diplomasi antar negara seperti KAA pada tahun 1955 di bandung.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *